
Jakarta (HeloIndonesia) , Sejumlah kementerian sangat optimis dengan rencana dan pengimplementasian progam B30 seiring hasil yang sudah dicapai dari progam sebelumnya yaitu B20.
Deputi Koordinasi Pangan dan Pertanian Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud mengatakan bahwa B20 bisa dan dipastikan menggantikan impor solar yang nilainya sebesar 3,5 juta kilo liter.
“Impor solar yang dihemat setara US$ 3,5 miliar atau sebesar Rp 51,57 triliun,” ungkap Musdhalifah dalam diskusi yang diselenggarakan Forum Merdeka Barat 9 (FMB 9) bertema “Diskriminasi Kelapa Sawit, B30 Siap Meluncur”, Senin (9/12).
Musdhalifah pun mengatakan, Indonesia merupakan produsen kelapa sawit yang sangat besar di dunia dengan nilai capaian produksi senilai 45 juta ton pada tahun 2019. Negara yang menjadi tujuan ekspor utamanya adalah India, China dan negara-negara di benua Eropa. Sementara itu, untuk pasar biodisel 3,5 juta kilo liter menyasar dalam negeri.

Lebih jauh Musdhalifah menambahkan jumlah keseluruhan nilai ekspor kelapa sawit mencapai US$ 21,4 miliar dan angka ini disebut melebihi nilai ekspor migas. Selain itu, penerapan progam B20 dinilai turut berdampak pada penyerapan nilai tenaga kerja. Ia menyampaikan, jumlah tenaga kerja yang terlibat langsung berjumlah 5,5 juta orang dan 12 juta orang tenaga kerja tak langsung.
“Peningkatan nilai tenaga kerja pada sektor kelapa sawit di Indonesia sebesar 10,8% setiap tahunnya yang secara langsung meningkatkan kesejahteraan lapisan masyarakat,” tambah Musdhalifah.
Ia melanjutkan, Indonesia terus memacu berbagai sektor seperti pengelolaan perkebunan kelapa sawit secara berkelanjutan yang memiliki dampak ganda yakni demi peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus menjadi kunci utama dalam pengendalian perubahan iklim.
Menurutnya, untuk menjawab tantangan tentang pengelolaan kelapa sawit berkelanjutan, pemerintah telah mengambil sejumlah langkah nyata sebagai contoh Mulai dari memberlakukan moratorium pembukaan hutan primer dan gambut hingga moratorium izin baru kebun sawit dan melakukan evaluasi kebun yang sudah ada dan berkontribusi di indonesia.
Update terbaru, Presiden Joko Widodo baru saja meneken Instruksi Presiden No 6 tahun 2019 tentang Rencana Aksi Nasional Perkebunan Kelapa Sawit Berkelanjutan (RAN KSB). “Pengelolaan sawit berkelanjutan sangat penting pada setiap kebijakan pemerintah Indonesia,” katanya.
Direktur Bioenergi Ditjen EBTKE Kementerian ESDM Andriah Feby Misna bilang implementasi B20 berjalan dengan baik. “Penyaluran titik serah berlangsung dengan baik dan minim komplain,” ujar Feby dalam kesempatan yang sama.
Feby menambahkan, berkaca dari implementasi B20 dan rangkaian road test yang dilakukan untuk B30 pihaknya optimis semuanya dapat berjalan dengan baik.